daun singkong
tentang jepang dan indonesia
di mata seorang penggemar sayur daun singkong
Saturday, August 13, 2005

Panas

Blog ini saya lihat lama tidak di-update. Karena saya sibuk ? Tidak juga sih. Pulang dari Shanghai, saya masuk kerja seperti biasa, dan tentu saja libur di akhir pekan. Untuk ngeblog di kantor, selain tidak sempat, juga tidak berani. Soalnya di Jepang sini saya lihat orang tidak biasa menggunakan internet untuk kepentingan pribadi. Apalagi nge-blog dan chatting. Lagi pula saya kan masih pegawai baru. Ndak pingin bikin masalah cuma gara-gara blog.

Anyway, saya ini tipe orang yang lebih memilih bermalas-malasan di hari libur. Tepatnya, mengistirahatkan otak, gitu. Kadang-kadang juga malas melihat layar komputer. Jadi otomatis blog saya ndak pernah di-update. Tulisan kali ini saya buat malam hari, sedikit usaha keras demi pengunjung blog yang menanti cerita saya. Ihiy...

Belakangan ini, rasa malas kok terasa semakin parah. Suhu udara musim panas yang sepertinya lebih parah dari Jakarta, membuat saya lebih betah menggelesor di lantai, didepan kipas angin sambil makan semangka, dan bengong melihat TV yang acaranya ndak begitu jelas. Pokoknya tidak pingin ngapa-ngapain, bahkan untuk bergerak satu senti pun, karena kalau bergeser sedikit udara akan terasa semakin panas.

Duh, mentang-mentang terbiasa dengan udara dingin, sok gak tahan panas... pasti ada yang pikir begitu deh.

Sampai sekarang rasanya saya masih susah membiasakan diri dengan perubahan musim. Waktu musim dingin pun saya ga begitu suka jalan-jalan. Lebih baik tinggal di rumah, menghangatkan diri, seperti saya pernah cerita. Makanya saya paling suka musim semi dan musim gugur. Tidak terlalu panas, tapi juga tidak terlalu dingin. Manja ya...

Minggu kemarin, pekerjaan mengharuskan saya berkunjung ke sebuah pabrik di kota Kofu, prefecture Yamanashi. Jaraknya sekitar dua jam naik kereta express dari Shinjuku. Karena kota Kofu ini letaknya di lembah yang dikelilingi pegunungan, suhu udara di kota ini bisa mencapai 38 derajat celcius di musim panas. Beruntung di dalam pabrik ada alat pendingin ruangan.

Selama keliling pabrik, saya selalu berusaha menutupi sinar matahari yang sangat terik dengan buku. Sengaja saya siapkan buku yang seukuran A4, supaya 'daya tutup'-nya lebar. Melihat saya selalu meringis menahan panas, atasan saya yang orang Jepang itu memandang saya dengan heran, "Loh, bukannya negeri kamu selalu panas sepanjang tahun ?"

Saya nyengir, "Wah, kalau di Indonesia saya terbiasa dengan panas setiap hari, jadi tidak terlalu merasakan perbedaan suhu. Tapi sejak di Jepang, rasanya baru saya mulai terbiasa dengan dingin, sudah harus merasakan panas yang menyengat."

Dan atasan saya itu memandang seolah-olah tindakan saya menutupi matahari itu sia-sia. Iya sih, menghalangi sinar matahari yang galak itu mungkin tidak membuat kulit saya yang sudah terlanjur gelap ini menjadi putih, tapi kan bukan berarti saya menyerah membiarkan kulit tambah hitam.

Makanya saya sebisa mungkin menghindari pulang ke Indonesia waktu musim panas. Soalnya, ada saja kerabat dan teman yang berkomentar, "Loh, kamu kan tinggal di negeri dingin. Kok kulitmu tidak tambah putih, malah tambah hitam sih ?"
kategori tulisan lama

kumpulan foto

Shopping yuk !

Satu Cinta Lingerie Apa Impian Anda ?

shoutbox

sponsor & link

Powered by Blogger
Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com
BlogFam Community
blog-indonesia
Get Firefox!
JANGAN ASAL COPY PASTE..

email me
created by emiliana dewi aryani
@ 2004 - 2011