daun singkong
tentang jepang dan indonesia
di mata seorang penggemar sayur daun singkong
Thursday, June 15, 2006

Orang Jawa

Terima kasih untuk segala ungkapan simpati, baik yang tertulis di blog ini, terkirim lewat email, tersampaikan lewat telepon, terucapkan langsung kepada saya, maupun doa dalam hati yang tersirat ketika anda mampir ke sini. Terima kasih, terima kasih.

Sejujurnya, saya terkadang bingung kalau ditanya sesama orang Indonesia : "Orang mana, mbak ?"

Meskipun saya lahir di Yogya, tapi saya sama sekali tidak punya ingatan pernah tinggal lama di kota indah ini. Orang tua saya memutuskan hijrah ke ibukota sejak saya bayi, dan mereka pernah mengatakan bahwa saya selalu menangis kepanasan di kereta ekonomi yang membawa kami menuju kota metropolitan Jakarta. Terkadang saya ingin tahu seperti apa perasaan mereka waktu itu, apakah sama ruwetnya seperti perasaan saya ketika berada di pesawat yang membawa saya ke negeri Sakura ini.

Anyway, kedua orang tua saya sangat jawa sekali. Ayah saya penggemar wayang kulit, rela tidak tidur semalaman demi melihat pertunjukan dalang idaman di taman mini. Sarapan wajib ayah saya adalah mendengar kaset gending, yang dulu kerap membuat saya kesal karena membuat saya terbangun secara paksa dari mimpi. Saya ingat waktu SD, ayah meminta seorang kenalan mengajarkan tarian jawa demi membuat putri pertamanya ini lebih 'njawani'. Sayangnya, saya tidak sabaran dengan gerakan tari jawa yang lemah gemulai itu. Akhirnya pelajaran menari itu pun terlupakan, setelah saya ngambek tidak mau tampil menari dengan alasan malu.

Mungkin saya masih beruntung karena saya masih mendengar kedua orang tua saya bicara bahasa Jawa di rumah, meskipun saya selalu membalasnya dengan bahasa Indonesia. Tidak ada pelajaran bahasa daerah saya terima di sekolah, jadi saya tidak pernah belajar secara formal bahasa Jawa. Setahun sekali, ketika kami 'pulang kampung' ke tempat nenek di Yogya sana, saya menemukan 'culture gap' yang cukup membuat rasa percaya diri saya berkurang drastis: saya tidak bisa bahasa Jawa. Tepatnya, saya hanya bisa bahasa Jawa kasar, meskipun saya bisa mengerti apa yang orang bicarakan dalam bahasa Jawa halus. Saya ingat ayah saya pernah berkata, "Suatu saat nanti, generasi anak cucumu mungkin akan belajar bahasa jawa di Belanda..." Kata-kata yang sekarang membuat saya merenung, karena ternyata saya bisa lebih lancar bicara bahasa Jepang ketimbang bahasa Jawa, bahkan saya menggunakan bahasa halus kepada klien Jepang setiap hari.

Terkadang kalau melihat teman-teman saya orang Jepang bersemangat memakai kimono ke pesta, atau yukata untuk menonton kembang api, saya jadi mengingat-ingat berapa kali saya pernah memakai kebaya. Waktu hari kartini di jaman SD dulu, waktu lulus universitas, dan waktu menikah. Itu pun tidak betah berlama-lama karena saya merasa tidak nyaman...

Kalau saya ditanya orang Jepang, "Orang mana ? ", saya bisa dengan cepat menjawab, "Indonesia."
Tapi kalau ditanya orang Indonesia , "Orang mana ? ", membuat saya berpikir, orang Jawa kah saya ? Atau orang Jakarta ? Atau hanya 'anak orang Jawa' ?
kategori tulisan lama

kumpulan foto

Shopping yuk !

Satu Cinta Lingerie Apa Impian Anda ?

shoutbox

sponsor & link

Powered by Blogger
Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com
BlogFam Community
blog-indonesia
Get Firefox!
JANGAN ASAL COPY PASTE..

email me
created by emiliana dewi aryani
@ 2004 - 2011