daun singkong
tentang jepang dan indonesia
di mata seorang penggemar sayur daun singkong
Tuesday, December 26, 2006

Garuda

panas, gerah, sumuk, nyamuk, bapak imigrasi berkumis, macet, macet, macet...
yup, saya pulang ke jakarta, lagi. Berawal dari google, search: kakuyasukoukuuken kokusai (the cheepest flight ticket, international). Dan ketemulah saya dengan site ini, yang punya info tiket Narita - Cengkareng dengan harga khusus WNI. Lagi pula kerjaan berikutnya baru akan mulai akhir Januari. Tapi waktu itu 2 minggu sebelum peak season. Pasti penuh. Mail dari mbak agen mengatakan nama saya ada dalam waiting list. A very strict waiting list. Ya sudah, mungkin belum rejekinya.Tapi telepon 2 hari berikutnya membuat saya bersorak. OK katanya. Jadi saya bisa pulang. Dengan tiket murah (dibanding tiket harga peak season, tentu saja ).
Dan ini pertama kalinya saya pulang dengan Garuda.
Nggak ada tv di kursinya. Okey, dengan harga segitu nggak usah ngarep deh. Bagus bisa pulang. Dapet seat sebelah dapur (atau apapun nama ruangan di pesawat yang buat nyiapin makanan). Ruangan itu ternyata sekaligus tempat ngerumpi pramugari-pramugarinya. Sebelum take-off. Biar kordennya ditutup, tetap saja kedengaran suara cekikikan.
Sudahlah, jangan dibandingin dengan penerbangan di jepang. Sesama orang Indonesia, maklum deh.
Tapi penumpang di sebelah saya, sepasang suami istri Jepang, tidak maklum. Pramugari Jepang memang nggak akan ngobrol seenaknya, apalagi kedengaran penumpang. Sebelum take-off pula. Kasih contoh dong sama penumpang. Duduk manis, pasang seat belt. Jangan ngerumpi, nggak profesional. Gimana penumpang mau merasa aman ?
Tapi toh take-offnya mulus-mulus saja.
Sampai di atas, ear phone dibagikan. Masing-masing dibungkus plastik. Tidak disegel, tentu saja. Gampang dibuka, wong sudah bolong-bolong. Suami istri Jepang sebelah saya hanya melirik ear phone yang saya sodorkan (soalnya pramugrarinya ngasih 3 biji ke saya, yang duduk paling pinggir). Diambil, dilihat sebentar, disimpan. Well, paling tidak ada hiburan, pikir saya. Coba-coba masukkan colokannya. Longgar. Tidak bisa dipakai. Ya sudahlah.
Tiket murah, nggak usah ngarep deh.
Berikutnya minuman dibagikan. "Nomimono wa ?" Mbak pramugari menanyai saya mau minum apa dalam bahasa Jepang (kasar). Duh, kulo wong jawi je. "Air aja mbak." Si mbak mesem, dan menuangkan aqua.
Berikutnya Jepang sebelah. Si bapak minta kopi, "Kohi !".Mbak pramugari menggeleng "nai... nai... Biiru ? Asahi ? Bintang ?" Gimana kalo bir aja ? Asahi ? Bintang ? Si bapak mengangguk. "Asahi."
Jujur saya malu. Duh Gusti, ini kan penerbangan internasional ke Jepang. Kalo memang nggak siap pake bahasa Jepang yang sopan, ya udah pake bahasa Inggris aja. Ini kan bukan pasar di Bali. Sini deh, belajar dulu sama saya gimana cara ngomong bahasa sopan.
Sudahlah. Tiket murah, nggak usah ngarep pelayanan bagus.
Next, makan siang. Kali ini giliran mas pramugara. "Siang mbak. Mau ikan ala Japanese atau daging ala Western ?" Sebenarnya aku maunya ala Javanese. Tapi ya sudahlah, Japanese OK deh. Toh masnya ganteng dan sopan.
Tapi selesai makan, si ibu Jepang sebelah menggumam "Penerbangan Indonesia kok nggak ada masakan Indonesianya yah ?" Tipikal turis Jepang. Sabar aja yah bu. Kalau ada menu Indonesia nanti pesawatnya bau sambel terasi.
Selesai makan, bosen liat film bisu Pirate of Carribean yang diputer di TV yang digantung di atas. Iya film bisu, kan ear phone nya nggak bisa dipake. Ya sudah, tidur saja. Jepang sebelah sibuk bikin planning, mau ke mana, makan apa.
Bangun tidur, dapet snack dan minum lagi. Mungkin inilah cara Garuda menyervis penumpangnya : kasih makan, nyuruh tidur.
Sebelum landing, ear phone dikumpulin. Or tepatnya, si mbak pramugari berjalan sambil menyeret plastik besar tempat ear phone dan mengambil secara paksa ear phone yang saya simpan di kantung kursi. Karena ear phone punya sebelah susah dijangkau, mbak pramugari hanya berkata "ear phone... ear phone..." sambil menunjukkan ear phone saya yang di'rampas'nya tadi. Suami istri Jepang itu hanya memandang dengan tatapan bingung, nggak ngerti maunya mbak pramugari itu apa. Akhirnya saya bilang, dalam bahasa Jepang tentu saja, "Apakah ear phone nya bisa dikembalikan ?" Jepang-jepang itu tersenyum lega, sambil buru-buru menyerahkan ear phone yang sama sekali tidak dipakai tadi.
Untung pesawat bisa landing di Denpasar dengan mulus. Kalau tidak, cerita curhatan saya ini masih akan berlanjut lebih panjang lagi. Lembaran angket saya selipkan ke tas, tapi belum sempat saya tulis. Masih menunggu ide untuk menulis unek-unek dengan kata-kata yang lebih baik.
Mungkin saya sudah tercemar gaya pelayanan orang Jepang. Kerja dengan orang Jepang, untuk orang Jepang, bikin saya merasa pelayanan di Indonesia - di penerbangan milik Indonesia yang seharusnya menjadi cover bangsa kita untuk dunia internasional - adalah pelayanan yang ... masih butuh banyak pelatihan...
Mungkin orang Indonesia terlalu mudah memberikan pemakluman. Like I said, tiket murah nggak usah ngarep lah. Tapi sampai kapan ?
Herannya, servis yang bagus justru saya peroleh dari penerbangan domestik Denpasar - Jakarta. Sebelah saya kali ini seorang pria Amerika, yang pacarnya orang Manado. Dia terlihat surprised melihat makan malam yang disediakan, meskipun penerbangan hanya makan waktu 1 jam lebih sedikit. Mbak-mbak pramugarinya terasa lebih ramah, mungkin karena waktu terbang yang cuma sebentar. Soal jadwal, kalau dibanding penerbangan dalam Jepang yang pasti akan minta maaf walau hanya telat 10 menit, penerbangan domestik Garuda memang kurang on time. Saya bilang kurang, mengingat telat 30 menit masih tolerable untuk jam karet orang Indonesia.
Saya rasa saya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan budaya Indonesia lagi...
kategori tulisan lama

kumpulan foto

Shopping yuk !

Satu Cinta Lingerie Apa Impian Anda ?

shoutbox

sponsor & link

Powered by Blogger
Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com
BlogFam Community
blog-indonesia
Get Firefox!
JANGAN ASAL COPY PASTE..

email me
created by emiliana dewi aryani
@ 2004 - 2011